← Back
Publication

Evaluation of Drug Management Information System to Improve Quality and Users Satisfaction: Case Study at a Primary Health Center

Kurniawan R, Yuniar P, Eryando T, Azimi KF, Retnowati, Maryori D. (2019). Evaluation of Drug Management Information System to Improve Quality and Users Satisfaction: Case Study at a Primary Health Center. Indian Journal of Public Health Research & Development, 10(2), 525–530. DOI: 10.5958/0976-5506.2019.00345.0. (Universitas Indonesia)

Link to the article

Penelitian ini mengevaluasi Sistem Informasi Pengelolaan Obat (SIPO), yaitu sistem berbasis web yang dikembangkan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. SIPO dikembangkan untuk menggantikan proses pencatatan dan pelaporan obat yang sebelumnya berbasis kertas dan spreadsheet terpisah. Sistem ini menghubungkan Puskesmas dengan Dinas Kesehatan, terutama dalam proses pencatatan stok, penggunaan obat, permintaan dan distribusi obat, monitoring persediaan, serta pembuatan laporan secara otomatis. (ResearchGate)

Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan mengadopsi DeLone and McLean Information Systems Success Model sebagai kerangka evaluasi. Enam dimensi yang dinilai adalah system quality, information quality, service quality, user satisfaction, individual benefit, dan organizational benefit. Evaluasi melibatkan tujuh informan yang dipilih secara purposif, terdiri atas enam pengguna dari Puskesmas dan satu pengguna dari Dinas Kesehatan. Setiap komponen diberikan skor pada skala 0–10. (ResearchGate)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan SIPO memperoleh skor rata-rata 7,9 dari 10, yang mengindikasikan penerimaan dan penilaian pengguna yang cukup tinggi. Dimensi dengan skor tertinggi adalah organizational benefit (8,5), diikuti individual benefit (8,3), information quality (8,0), user satisfaction (8,0), dan service quality (7,9). Sementara itu, system quality memperoleh skor terendah, yaitu 6,5. (ResearchGate)

Temuan penting dari masing-masing dimensi adalah:

  • Kualitas sistem: pada aspek kemudahan dan bahasa, pengguna memberikan penilaian relatif tinggi. Namun, integrasi memperoleh skor 0, karena pada saat penelitian SIPO masih merupakan sistem yang berdiri sendiri dan belum dapat berkomunikasi dengan sistem informasi kesehatan lainnya. Response time juga relatif lebih rendah dengan skor 6,8. (ResearchGate)
  • Kualitas informasi: dinilai baik dengan skor rata-rata 8,0. Output format memperoleh nilai tinggi (8,8), namun masih terdapat kelemahan dalam kelengkapan informasi, khususnya pencatatan masa kedaluwarsa obat dan indikator yang mendukung pengelolaan FEFO/FIFO. (ResearchGate)
  • Kepuasan pengguna: memperoleh skor 8,0. Pengguna menyatakan bahwa mereka tetap ingin menggunakan sistem karena SIPO mempermudah pekerjaan, terutama dalam proses pencatatan dan pelaporan. (ResearchGate)
  • Manfaat individual: SIPO dianggap meningkatkan kemudahan, kecepatan, efektivitas, serta produktivitas kerja pengguna. Pembuatan laporan merupakan salah satu aktivitas yang paling terbantu oleh sistem. (ResearchGate)
  • Manfaat organisasi: merupakan aspek dengan penilaian terbaik. SIPO meningkatkan efektivitas pengelolaan obat pada tingkat Puskesmas maupun Dinas Kesehatan dan memungkinkan Dinas Kesehatan melakukan monitoring transaksi serta stok obat di Puskesmas secara lebih langsung. (ResearchGate)

Salah satu perubahan penting yang dihasilkan SIPO adalah transformasi proses bisnis pengelolaan obat dari mekanisme manual menjadi elektronik. Laporan bulanan dapat dihasilkan secara otomatis sehingga Puskesmas tidak lagi perlu mencetak dan mengirim laporan secara manual. Dinas Kesehatan juga dapat mengetahui jumlah dan jenis obat yang dibutuhkan masing-masing Puskesmas dengan lebih cepat sehingga proses distribusi dapat dilakukan secara lebih tepat waktu. Sistem juga menyediakan proses approval secara elektronik, termasuk kemungkinan melakukan persetujuan melalui smartphone. (ResearchGate)

Kesimpulan utama

Publikasi ini menunjukkan bahwa SIPO berhasil memberikan manfaat nyata pada level pengguna maupun organisasi. Digitalisasi pengelolaan obat meningkatkan efisiensi pencatatan, pelaporan, monitoring, komunikasi, dan distribusi obat antara Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Tingginya kepuasan pengguna dan manfaat organisasi menunjukkan bahwa penerapan sistem informasi tidak hanya mengubah media pencatatan, tetapi juga dapat mengubah dan menyederhanakan proses bisnis pengelolaan obat. (ResearchGate)

Namun, dua area utama masih membutuhkan pengembangan, yaitu interoperabilitas/integrasi dengan sistem informasi kesehatan lain serta kelengkapan data dan fitur inventory, termasuk monitoring kedaluwarsa obat dan beberapa laporan yang belum terakomodasi. Penulis menyimpulkan bahwa keberlanjutan sistem juga membutuhkan dukungan organisasi, kepemimpinan, lingkungan yang mendukung teknologi, kompetensi pengguna, dan kepuasan pengguna. (ResearchGate)